Monday, 30 June 2014

Bintang ★

Aku adalah bintang. Bergerak di atas awan seputih kapas. Aku bersinar bila ada malam menjelang, matahari datang di belakang. Aku berkerlap-kerlip dengan sangat indah. Banyak manusia atau makhluk di bumi yang senang melihatku. Mereka membuat permohonan. Macam-macam. Sering kudengar tentang betapa hidup itu penuh dengan teka-teki, warna, coret dan kosong.

Aku tak pernah mengerti mengapa mereka meminta padaku bahwa jelas-jelas aku tak bisa mengabulkan apa yang mereka mau dan inginkan. Namun aku juga di sebut sebagai Dhruva-bintang terkenal di India yang bisa mengabulkan keinginan paling kuat. Kau boleh percaya boleh tidak. Karena ini hanya sebuah permainan dan tindakan nyata bahwa setiap manusia khususnya punya keinginan dan permohonan mereka masing-masing.

Aku sering terlihat di titik lurus sebuah jendela seorang gadis. Mungkin usianya sekitar 17tahun. Aku sering kali mendengar seseorang memanggilnya Bulan. Ya Bulan, nama yang cocok dan pas untuk wajahnya yang ceria dan manis. Dia sering sekali duduk di jendela melihatku dan tersenyum. Aku senang melihat senyumnya. Dia juga sering bercerita padaku tentang kehidupannya. Aku bagai diary voice miliknya. Menceritakan tentang kehidupan sekolah, keluarga, teman dan pacar.

Aku baru mendengar istilah itu. Pacar? Aku baru tahu bahwa di bumi anak-anak sebelia dia sebagian kehidupan terbesarnya untuk seseorang makhluk yang di sebut pacar.
Bulan menceritakan berbagai hal tentang pacarnya. Dia sering menyebutnya Dewa. Entah itu namanya atau karena dia begitu memuja pacarnya sehingga ia memanggilnya Dewa. Beberapa bulan terakhir dia sering dan hampir setiap hari menceritakan tentang Dewa. Menurutku, Bulan begitu bahagia, senang. Ketika dia menceritakan tentang Dewa, matanya selalu berbinar-binar, menyebut nama Dewa pun terlihat jelas makna apa yang tersirat ketika ia menyebutnya, nafasnya memburu detak jantungnya pun seakan nggak beraturan, deg-deg an mungkin itu istilahnya, entahlah, yang pasti dia terlihat begitu bahagia. Aku tahu Bulan sedang jatuh cinta, manis yang dia rasakan. Setiap malam dia selalu tersenyum dan tertawa bila hapenya berbunyi pertanda ada kabar dari Dewa.

Jatuh cinta, kau pasti tau dan kau pasti merasakan apa itu cinta. Ketika kau lahir di dunia kau memiliki cinta untuk ibumu yang begitu besar. Kau mencarinya, kau di beri asi olehnya, di timang dan di manja olehnya. Mungkin istilah Cinta untuk Bulan tidak pas di sini. Tapi seperti itulah cinta. Kasih sayang.
Akhir-akhir ini hujan, aku tak bisa terlihat di dunia karena langit begitu mendung dan hitam. Akhirnya cerah pun datang, aku terlihat dan melihat Bulan. Aku kaget melihatnya. Kenapa dia? Apa ada yang salah dengannya? Dia begitu rapuh. Ku bisikkan lewat angin, dia menengadah melihatku dan tersenyum penuh kesedihan. Aku merasakan. Dia begitu menyedihkan. Berkali-kali ia terlihat mengusap matanya dengan jemari dan tissue. Hidungnya memerah, matanya membengkak, pipinya basah oleh air mata. Dia mulai bercerita. Tentang Dewa...

Dia begitu sakit, dia terisak ketika bercerita tentang Dewa. Maka kau tahu di sini bahwa semua yang terjadi dan terencana tak akan pernah bisa berjalan semulus yang kau kira. Berkali-kali dia menyebut ‘ aku sungguh mencintai Dewa, bintang. Apa kau dengar itu? Apa yang salah dengan itu? Tapi mengapa ia begitu menyakitiku. Apa salahku? ‘
Aku menyimak dan mendengarkan apa yang dia ceritakan dan rasakan. Aku mulai tahu. Ini yang di sebut dengan teka-teki kehidupan. Kita tak akan pernah tahu apa yang terjadi dan apa yang kita rencanakan itu akan berhasil apa cuma angan-angan yang nanti akan menghempaskan kita menjadi bongkahan sekecil kapas yang tidak ada artinya. Cinta? Itulah cinta.

Senang, bahagia, tangis, canda, tawa, luka, kecewa dan perih. Itu yang ia berikan untuk kita. Namun bagaimana kita menghadapi dan bertahan untuknya. Kita berharap dan secara nggak sadar kita juga kecewa. Menangis namun kau masih bisa tersenyum untuknya. Sakit tapi kau masih tertawa bersamanya. Tidakkah kau menyadari betapa bodoh dan rapuhnya dirimu? Bertahan untuk hal-hal yang selalu membuatmu sakit, menangis, namun kau masih tersenyum dan berkata’ karena aku menyayanginya, karena aku mencintainya. Karena dia adalah dia ‘ apa dengan begitu semua bisa menjadi lebih baik dan kau bisa menjadi bahagia? Aku tidak pernah tahu jawabnya. Hanya hati, pikiran dan jiwamu yang akan menjawabnya.

Menunggu, satu hal sangat membosankan. Apalagi jika kau menunggu yang tak pasti, menunggu semua menjadi jelas. Apa itu bisa di sebut menunggu? Atau hanya harapan kosong yang akan kau dapatkan dari itu?
Satu hal lagi apa kau bisa terus hidup menunggu dan berharap tanpa ada yang dapat kau lakukan untukmu dan orang lain? Jawabnya tidak.

Hidup itu berjalan seperti waktu, menatap lurus ke depan. Kadang kau akan menemukan hal-hal baru dan asing untuk kau pelajari. Terkadang kau juga harus berpura-pura untuk bahagia karena dari itu menunjukkan kekuatanmu untuk melangkah. Suatu hubungan yang baik pun tak terjadi begitu saja di butuhkan waktu kesabaran dan dua orang yang percaya mereka benar-benar ingin bersama. Kadang juga kau harus dengarkan kata hatimu jangan tanyakan siapa yang kau cintai melainkan tanyakan siapa yang membuatmu bahagia dan merasa di cintai..

Written by Rizka Beatrix Mahardhika (Bea)- My Close Friend