Sabtu, 29 November 2014

Kurikulum 2013 vs MEA


Pada tahun 2015 mendatang, Indonesia akan menghadapi pasar bebas ASEAN yang kita kenal dengan sebutan MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN).  Para pemimpin ASEAN sepakat membentuk MEA agar  daya saing ASEAN meningkat serta bisa menyaingi Cina dan India untuk menarik investasi asing.  Penanaman modal asing di wilayah ASEAN sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan.  Dan ini memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.  Tidak hanya arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja professional, seperti dokter, pengacara, akuntan, dan lainnya.  Oleh karena itu, Indonesia harus mempersiapkan datangnya pasar bebas tersebut.  Diantaranya adalah penguasaan bahasa internasional yaitu bahasa Inggris.  Lalu bagaimana dengan kurikulum 2013 untuk SD yang menghapus tiga pelajaran yang salah satunya adalah pelajaran bahasa Inggris?

Jokowi, yang saat ini menjabat sebagai presiden RI, setuju dengan dihapusnya pelajaran bahasa Inggris untu anak SD karena pelajaran bahasa Inggris lebih baik diberikan kepada siswa SMP tuturnya.  Alasannya, supaya siswa sekolah dasar memiliki rasa nasionalisme.

Penghapusan pelajaran Bahasa Inggris untuk SD dilakukan secara bertahap. Pada tahun lalu hanya kelas satu dan dua yang tidak mendapat pelajaran Bahasa Inggris.  Pada tahun ajaran 2014/2015, mata pelajaran Bahasa Inggris di SD tidak diajarkan untuk kelas satu, dua, tiga, dan empat.  Dan tahun selanjutnya, pada 2015/2016 mendatang, kelas satu, dua, tiga, empat, dan lima tidak mendapat pelajaran Bahasa Inggris.  Barulah pada 2016/2017, seluruh tingkat pendidikan SD tak akan mendapat pelajaran Bahasa Inggris.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Sejak 3 tahun sampai 6 tahun otak anak memang terus berkembang tetapi lebih lambat.  Area otak yang paling berkembang di tahap ini adalah bahasa, memori, pendengaran dan penglihatan. Lebih khusus, dari bulan pertama kehidupan sampai tiga tahun, anak-anak dengan penuh perhatian mengamati, mendengarkan, mengupayakan untuk mengingat dan belajar dari segala sesuatu di sekitar mereka, terutama bahasa.

Mempelajari bahasa Inggris seharusnya diberikan sejak dini ketika anak belum mengalami masa pubertas.  Jika belajar saat atau setelah masa pubertas maka akan tidak begitu mudah jadinya untuk mempelajari pronunciation (cara melafalkan bahasa).  Seorang ahli Bahasa Inggris, Lenneberg (1967:116) mengatakan; “There was a neurologically based ‘critical period’, which completes mastery of language, but it is no longer possible, because it will end around the onset of puberty”.  Menurut Lenneberg, seorang individu mempunyai masa penting (periode sensitif) untuk dapat dengan mudah dan cepat menguasai bahasa, yang disebut dengan ‘critical period’ pada saat  individu tersebut belum memasuki masa pubertas.  Ketika masa pubertas itu datang maka ‘critical period’ memudar sehingga akan mengalami kesulitan untuk menguasai bahasa asing tersebut.

Pakar bahasa Inggris lainnya, Lightbown & Spada (1999:60) melakukan observasi terhadap anak-anak dari keluarga imigrasi yang datang dari negara lain dan menetap di USA.  Penelitian tersebut menemukan bahwa anak-anak imigrasi tersebut yang belum mencapai masa pubertas, dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan pronunciation yang bagus seperti native speaker.  Sedangkan orang tuanya tidak dapat mencapai kemampuan seperti anak-anaknya.  Memang para orang tua tersebut dapat berbicara dengan lancar tetapi mereka mempunyai kesulitan dalam pronunciation, pemilihan kata, dan grammar yang seharusnya digunakan.
Selain itu, individu yang baru mempelajari bahasa Inggris ketika sudah mencapai masa pubertas akan dipengaruhi dengan masalah psikologi.  Karena motivasi anak-anak dan remaja akan berbeda.  Jika anak-anak, belajar bahasa Inggris dalam suasana relax dan bisa sambil bermain.  Namun, jika sudah mencapi masa pubertas, mereka mempunyai kemampuan membaca dan menganalisa situasi yang mereka hadapi sehingga mereka merasa kemampuan mereka dievaluasi dan akan malu jika tidak mencapai target yang mereka inginkan.

Agar tidak menyia-nyiakan masa emas tersebut, jadi sebaiknya mata pelajaran bahasa Inggris untuk anak SD tidak di hapus guna mempersiapkan pasar bebas untuk masa depan mereka dengan tidak melupakan nilai-nilai nasionalisme yang ingin dibentuk pada diri siswa.  Adanya pelajaran bahasa Inggris juga demi kepentingan Indonesia agar tidak banyak pekerja nasional nantinya yang tergeser karna minimnya kemampuan berbahasa di pasar bebas yang akan datang.  Pepatah arab juga mengatakan; Belajar di masa kecil bagaikan mengukir di atas batu.  Sementara belajar di waktu dewasa bagaikan mengukir di atas air.

--Artikel ini juga dimuat di web jurusan FKIP Bhs. Inggris Universitas Islam Malang KLIK HERE ^^